GROBOGAN — Program Bangga Kencana kembali disosialisasikan bersama mitra kerja melalui kegiatan yang digelar pada Jumat, 28 November 2025, di Gor Kurnia, Desa Kedungjati, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan. Sosialisasi ini dihadiri jajaran BKKBN Provinsi Jawa Tengah, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan KB Grobogan, serta Anggota Komisi IX DPR RI.
Plt. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah, Heri Wiryanto, S.H., dalam sambutannya menegaskan bahwa peran BKKBN saat ini tidak lagi semata-mata mengurusi program Keluarga Berencana seperti dulu.
“Dulu KB identik dengan dua anak cukup, dan penggunaan alat kontrasepsi dianjurkan hingga usia 40 tahun. Itu konsep lama. Sekarang BKKBN bukan hanya KB, tetapi sudah berfokus pada Pembangunan Keluarga,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu fokus utama adalah pengendalian stunting yang dipengaruhi faktor nutrisi, sanitasi, dan kondisi rumah layak huni. Ia juga menyebutkan sejumlah program BKKBN seperti Genting, Tamasya, Gati, Sidaya, hingga SuperApps, serta MBG (Makan Bergizi) yang merupakan amanat Presiden.
“Harapannya seluruh program BKKBN dan kolaborasi dengan berbagai mitra dapat berjalan lancar dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” tambahnya.
Kepala DP3AKB Grobogan, Indartiningsih, S.Sos., M.M., menyinggung persoalan pernikahan usia anak yang masih cukup tinggi di wilayahnya.
Ia menekankan bahwa usia ideal menikah sesuai Undang-Undang Perkawinan adalah minimal 21 tahun untuk perempuan.
“Masih banyak perempuan di bawah 19 tahun yang sudah menikah. Kami berharap orang tua dapat menunda pernikahan anak hingga usia ideal, sambil memberikan edukasi tentang kesiapan berumah tangga,” jelasnya.
Indartiningsih juga menyoroti pentingnya pendataan balita melalui posyandu agar program Genting dan MBG benar-benar tepat sasaran.
Anggota Komisi IX DPR RI, Dr. H. Edy Wuryanto, S.Kp., M.Kep., menegaskan bahwa pemerintah saat ini memberi prioritas besar pada pembangunan Sumber Daya Manusia, bukan lagi hanya Sumber Daya Alam.
“Anak-anak kita harus sehat, cerdas, dan kuat. Untuk itu BKKBN hadir mengayomi keluarga dan memastikan anak tumbuh optimal,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Komisi IX turut mengawal program Makan Bergizi (MBG) yang kini menyasar 82 juta penerima di Indonesia. Program ini dinilai sangat membantu masyarakat, termasuk perputaran ekonomi melalui pembelian bahan pangan lokal seperti beras, sayur, telur, hingga daging.
“Di Grobogan saja sudah berdiri 120 dapur MBG. Program ini juga penting agar ibu hamil tidak kekurangan gizi,” tambahnya.
Sebagai anggota DPR, Edy menegaskan komitmennya untuk memastikan seluruh program BKKBN—mulai dari layanan untuk ibu hamil, balita, hingga anak usia sekolah—dapat tersalurkan dengan baik.
Kegiatan sosialisasi ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pentingnya perencanaan keluarga, pencegahan stunting, serta penguatan SDM menuju keluarga yang sehat, mandiri, dan sejahtera.